JOMBANG – Bupati Jombang pertama dalam sejarah berdirinya Kadipaten Jombang berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda Nomor 553, yang dikeluarkan pada tanggal 21 Oktober 1910 adalah Raden Adipati Arya Soeroadiningrat yang diangkat sebagai Bupati pertama kabupaten Jombang.
Kanjeng sepuh begitu orang menyebutnya, memiliki nama kecil Bagus Badrun, adalah salah seorang putra dari R.A.A. Soeroadiningrat IV, Bupati Sidayu. Berdasarkan silsilahnya Kanjeng Sepuh merupakan keturunan ke-15 Prabu Brawijaya V Raja Majapahit.
R.A.A. Soeroadiningrat IV putra R.A.A. Soeroadiningrat III putra Raden Museng putra Raden Anom putra Raden Ayu Suradilaga (Patih Panembahan Madura) putra Raden Lembu Peteng putra Prabu Brawijaya V (Kertawijaya/Bra Tumapel, 1447-1478) dengan Kanjeng Ratu Handarawati (Putri Cempa).
Kanjeng sepuh semasa anak hingga dewasa menempuh pendidikan di Pesantren Giri, disamping itu juga menempa ilmu kanoragan dan kebatinan di Padepokan Gilingwesi. Dua pendidikan penting ini mencetak dirinya ke depan menjadi pemimpin yang mumpuni dan linuwih.
Kanjeng sepuh atau ada sebagian masyarakat yang menyebutnya Kanjeng jimat adalah pemimpin yang arif bijaksana serta mampu mengayomi warganya. Sebelum menjabat Bupati Jombang, R.A.A Soeroadiningrat telah menjabat sebagai Bupati Sedayu menggantikan ramanya.
Sebelum berdiri sebagai Kabupaten, Jombang masih menjadi wilayah afdeeling Mojokerto lantas menjadi resmi wilayah kabupaten yang terpisah dari Mojokerto dan belanda mengangkat R.A.A Soeroadiningrat untuk memimpin Jombang.
Usulan pengangkatannya atas dasar saran dari Bupati Mojokerto R.A.A. Kramadjajaadinegara atas pertimbangan seorang penghulu asal Sumobito yang bernama Imam Zahid.
“saat itu, R.A.A Soeroadiningrat dianggap orang yang paling tepat, karena berlatar belakang santri sekaligus pendekar linuwih, dengan modal itu dianggap akan mampu memimpin masyarakat Jombang yang terkenal keras”. Ungkap pegiat seni dan sejarah Jombang, Nasrul Ilah.
Bahkan dirinya juga menyebutkan, bagaimana sepak terjang kanjeng sepuh yang tetap memperhatikan rakyat di tengah keputusannya untuk berdamai dengan Belanda.
“Menurut saya, beliau adalah orang yang punya posisi tawar terhadap Belanda kala itu. Beliau memang mau diatur Belanda dengan dipindahkan di Jombang, tapi ada syaratnya,” lanjut pria yang juga telah menulis sejarah Kabupaten Jombang ini.
Syarat yang disebutnya adalah dibangunnya Pabrik-Pabrik Gula di Jombang untuk produksi Gula yang memang dibutuhkan belanda dalam jumlah besar untuk diekspor di jaman itu.
Terhitung ada lebih dari tujuh Pabrik gula yang didirikan belanda di Jombang dahulu, yang tersebar di beberapa wilayah Jombang, diantaranya pabrik gula Tjoekir, Ceweng, Djombang Baru, Peterongan, Ploso, Sumobito, dan Mojoagung.
“Belanda yang dapat gula, rakyat dapat pekerjaan, karena kebun tebu tentu membutuhkn buruh tebang, buruh kupas, dan lain-lain. Jadi Belanda dapat bagiannya, tapi kebutuhan hidup masyarakat tetap terpenuhi,” lanjutnya.
Kajeng sepuh memimpin kabupaten jombang sejak tahun 1910 hingga 1930. Selanjutnya diteruskan putranya yang bernama R.A.A Soetjoadiningrat.

R.A.A. Soeroadiningrat meninggal dunia pada 20 April 1946, bulan Suro, hari Jum’at Pahing dalam usia 96 Tahun dimakamkan di Sentono Pulo Sampurno, Jombang.
Dimakam tersebut juga disemayamkan R.A. Maimunah Soeroadiningrat (istri kanjeng sepuh), Bupati kedua beserta istri serta anak-anaknya.
Kanjeng sepuh adalah bupati yang tidak saja disegani namun juga dicintai oleh rakyatnya. sebagai orang yang mampu memposisikan dirinya di tengah-tengah, tanpa perlu mengorbankan kepentingan rakyat, namun tetap bisa menjaga hubungan baik dengan pemerintah Belanda kala itu. (berbagai sumber)













