Suatu ketika penduduk desa mengalami sakit misterius, banyak penduduk yang meninggal akibat penyakit tersebut. sebagai penguasa daerah tersebut, Joko tulus menyelidiki penyebab sakitnya penduduk sampai akhirnya menemukan penyebab sakit tersebut karena makhluk halus yang pernah berwujud Bajul ijo.
Terjadilah pertarungan sengit antara Joko tulus dengan makhluk jadi-jadian berwujud bajul ijo, sekali lagi pertempuran bisa dimenangkan oleh Joko Tulus. Makhluk jadi-jadian lari dan merasuki banteng tracak Kencono milik surontanu.
banteng tracak kencono mengamuk sejadi-jadinya merusak segala apa yang diterjangnya, suaranya memekakkan telinga.
Joko tulus meminta ijin hendak menangkap dan menyembelih banteng tersebut tapi tidak diperbolehkan Surontanu akhirnya terjadilah pertempuran sengit antara dua orang saudara seperguruan. Pertempuran terjadi berhari-hari demi memperebutkan banteng tracak kencono yang sudah menjadi milik Surontanu.
Konon, pertempuran kedua orang tersebut berlangsung amat dahsyat. Saat keduanya bertarung, dari tubuh mereka mengeluarkan cahaya ijo (hijau) dan abang (merah) sesekali terjadi pendaran warna karena benturan. Dari penggabungan kata ijo dan abang tersebut muncul sebutan Jombang.
Menghadapi surontanu Joko tulus mengeluarkan segala jurus yang dimiliki lompat kesana kemari menghindari serangan kakak seperguruannya, hingga menyerupai kebo yang berjingkrak-jingkrak sehingga dikenal dengan ‘kebokicak’.
Trademark Jombang di simpang Jalan A. Yani dan Jalan wahid Hasyim.
Dalam mitologi jawa, Warna hijau bermakna kesuburan, ketenangan, dan kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sementara, warna merah berarti keberanian, dinamis dan kritis.
Tapi, ada pula yang menyebut ijo mewakili kaum santri (agamis), sementara abang mewakili kaum nasionalis. (dihimpun dari berbagai sumber)













