Kisah teladan, ‘Farel’ Sang Dalang Cilik Dari Kaliwungu Jombang

Foto farel Yuda Kusuma menunjukkan hasil karya di pusat galerinya

Jombang – Contoh baik, seorang Remaja bernama Farel Yuda Kusuma, pemuda 18 tahun asal kelurahan kaliwungu, kecamatan Jombang, kabupaten Jombang sunguh patut ditiru. Pasalnya dia nemiliki talenta seni pewayangan, dari membuat wayang hingga memainkannya.

Hobi Farel tentu menjadi langkah ditengah gempuran kemajuan digital, dimana anak seusianya sedang gandrung dan sibuk dengan gadgetnya. Banyak generasi muda yang mulai jauh dari budaya tradisional bangsanya.

Berawal sejak SD usia 7 tahun, tertarik dengan keindahan bentuk dan filosofi wayang. Farel kini juga terampil membuat wayang dengan tangannya sendiri bahkan dia juga membagikan karyanya melalui dunia maya.

Farel menceritakan tertarik wayang, berawal saat membaca buku pepak Bahasa Jawa, disitu dia menemukan bermacam-macam gambar wayang serta makna filosofinya.

“Bagi saya, waktu itu gambar wayang yang ada di buku pepak bahasa jawa paling meranik, terutama dari segi bentuknya yang unik,” ungkap siswa SMAN 3 Jombang tersebut.

Darah seni mengalir dalam diri Farel dari jalur Kakeknya, Mbah Kungnya adalah seorang pengrawit atau penabuh gamelan, yang kemudian menumbuhkan dan mewariskan bakat seni hingga ke farel.

Dari ketertarikannya pada wayang, Farel mulai belajar secara otodidak dengan mencari referensi melalui internet dan buku-buku tentang wayang. Hingga akhirnya, pada sekitar kelas 4 SD, ia mulai mendalami pembuatan wayang, bahkan memulai usaha untuk menjual wayang berbahan dasar kertas karton.

“Saya membuat wayang untuk diri sendiri, tetapi jika ada yang tertarik, saya menerima pesanan,” ujarnya. Usaha tersebut kini dikenal dengan nama KF Productions yang memasarkan karya-karyanya melalui platform media sosial Instagram.

Selain keterampilannya dalam membuat wayang, Farel juga pernah terlibat dalam pentas seni. Meskipun belum pernah tampil penuh sebagai dalang, Farel pernah mengisi acara di sekolahnya, memainkan peran sebagai dalang yang didukung oleh teman-teman pengiring musik Karawitan.

Baca Juga  Bupati Jombang Turun Ikut Patroli bersama Kapolres Jombang

“Saya memang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karawitan di sekolah, jadi saya lebih banyak belajar tentang musik dan seni pertunjukan,” tambahnya.

Farel mengaku sangat mengagumi cerita-cerita dalam pewayangan, terutama lakon Pendawa Sukur atau Sesaji Rajo Joyo. Menurutnya cerita tersebut menggambarkan keberhasilan Pandawa dalam membangun Negara. Ceritanya penuh dengan nilai moral tentang kebijaksanaan dan keteguhan pendirian.

Menurutnya seni tradisional ini sebagai terapi yang menenangkan jiwa, sebuah keindahan dan harmoni yang dapat dijadikan sebagai pelarian dari kesibukan dunia modern.

“Bagi saya, wayang bukan hanya soal bentuknya, tetapi juga nilai estetika yang terkandung di dalamnya. Itu yang membuat saya terus menyukai dan menggeluti seni ini,” tuturnya.

Meskipun masih muda, Farel menunjukkan dedikasinya dalam menjaga dan mempromosikan budaya Jawa. Dengan semangat, ia berharap generasi muda lainnya bisa lebih mengenal dan menghargai warisan budaya kita, seperti wayang.

“Boleh saja mencintai budaya luar, tapi jangan sampai kita terlena dan melupakan budaya kita sendiri. Wayang memiliki banyak nilai moral yang dapat kita petik,” ungkapnya.

Dengan harapan agar seni tradisional tetap lestari, Farel terus berkarya dan berusaha menjadi inspirasi bagi teman-teman sebayanya untuk lebih mencintai budaya Indonesia.

Sebagai anak muda yang sudah mulai menjalani profesinya di dunia wayang, dia berharap bisa terus mengembangkan keterampilannya dan menjadikan seni tradisional ini sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Saat ini, Farel sudah proses menjelang lulus SMAN 3 Jombang dan melanjutkan pendidikanya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengambil jurusan Sendratasik untuk semakin memperdalam dan mengambangkan bakat seni dunia pewayangan. (jj)

Writer: jejeEditor: udin