Jombang – Alunan nada indah keluar dari petikan gitar tua yang dimainkan seorang pria Tuna Netra. Suparkan (67), pria warga Gambiran, kecamatan Mojoagung, kabupaten Jombang piawai memainkan gitar walaupun memiliki keterbatasan penglihatan.
lagu-lagu kenangan karya Ebiet G. Ade, Koes Plus, hingga Iwan Fals dimainkannya dengan piawai. Meski nafasnya tidak sekuat seperti saat masih muda, namun suaranya masih merdu dan mengandung ketulusan dalam setiap bait yang dinyanyikannya.
Di desa Gambiran, Suparkan bukan sekadar warga biasa. Ia adalah sosok yang dikenal sebagai mantan musisi, tukang pijat, dan seorang muazin dengan suara merdu bahkan mirip dengan suara adzan masjidil haram makkah.
“Musik itu hiburan buat saya, sekaligus cara saya menikmati hidup. Kalau sedang bermain gitar, saya merasa lebih hidup,” ujar Suparkan saat ditemui awak media.
Rumahnya sederhana, namun penuh kehangatan. Dari situlah lagu-lagu nostalgia mengalun merdu dalam petikan gitar yang ia mainkan.
Suparkan mulai mengenal musik sejak muda. Ia pernah tinggal di Surabaya dan aktif tampil bersama grup band dan orkes melayu. “Dulu saya pemain bass,” kenangnya.
Kini, dengan kondisi penglihatan yang tak lagi berfungsi, ia tetap memainkan gitar dengan mengandalkan ingatan dan kepekaan jari-jarinya.
Tak hanya bermusik, Suparkan juga membuka jasa pijat di rumah. Ia melayani siapa pun yang datang, tanpa menetapkan tarif. “Berapa pun diberi, saya terima. Kadang Rp30 ribu, kadang Rp50 ribu bahkan pernah Rp100 ribu. Tapi sekarang lagi sepi, mungkin karena musim hujan,” ujarnya dengan tersenyum ramah.
Keterbatasan penglihatan mulai ia alami setelah kelahiran anak pertama. Semakin lama, pandangannya mengabur, hingga akhirnya gelap total setelah anak ketiganya lahir. Namun, bukan kesedihan yang mendominasi hidup Suparkan. Ia justru memilih bersyukur dan terus melangkah, meski tanpa cahaya.
Setiap hari, ia tetap berusaha menjalani salat berjamaah lima waktu di masjid yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. Ia hafal setiap sudut jalan. Kadang berjalan sendiri, kadang ditemani Suwaji (70), tetangga yang juga sahabat dekatnya. “Kalau nggak di rumah, pasti dia di masjid,” kata Suwaji.
Suparkan bahkan sempat menciptakan lagu khusus untuk Bupati Jombang, Warsubi, sebagai bentuk harapan dan aspirasi rakyat kecil. Meski sederhana, lagu itu lahir dari hati yang jujur dan pengalaman hidup panjang seorang warga desa yang tak pernah menyerah.
Sosoknya menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berkarya, apalagi menyerah pada keadaan. Suwaji menyebutnya sebagai pribadi yang sabar dan tak suka mengeluh.
“Dia tidak pernah minta-minta. Hidupnya mandiri dan penuh semangat. Walaupun kondisinya tidak bisa melihat ia tetap berusaha bekerja dan meski gelap menutup matanya, insyaallah cahaya tetap menyala dari hatinya,” ungkap suwaji tentang sosok suparkan. (*)



