Nuranikeadilan.web.id – Malam ini, Kamis Wage, 29 Dzulhijjah 1446 bertepatan malam 1 Muharom 1447 H atau dikenal dengan 1 suro, jatuh pada hari jum’at kliwon.
Bagi masyarakat Jawa, malam Jumat Kliwon dipercaya memiliki energi magis yang kuat dan mengakar, dibanding hari lain. Malam 1 Suro yang bertepatan dengan malam Jumat Kliwon dipercaya mengandung kekuatan magis yang sering dikaitkan dengan hal yang bersifat supranatural.
Berdasarkan kepercayaan masyarakat jawa, malam 1 suro yang jatuh pada hari Jumat kliwon memiliki nilai kesakralan diantaranya;
- Malam ini dipercaya memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan malam lainnya, sehingga banyak yang memilih malam ini untuk melakukan laku spiritual seperti bertapa, tirakat, atau menjalankan ritual kebatinan. Bagi sebagian orang yang mendalami ilmu spiritual bahkan yang sesat, malam Jumat Kliwon menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan ilmu mereka. Mereka meyakini bahwa pada malam ini akan ada ujian berupa gangguan dari makhluk halus. Bila berhasil melewati ujian tersebut, maka kekuatan spiritual mereka dianggap meningkat.
- Jika hujan turun pada malam Jumat Kliwon, Air hujan itu diyakini memiliki kekuatan spiritual yang mampu membersihkan hati dan pikiran. sehingga banyak yang menampungnya untuk keperluan khusus, antara lain untuk mencuci wajah agar hati lebih jernih dan pikiran menjadi tenang. Beberapa orang juga memanfaatkannya untuk laku ritual untuk menghilangkan energi negatif dalam diri manusia.
- Malam Jumat Kliwon adalah waktu yang sangat rawan terhadap gangguan makhluk halus.
- Malam Jumat Kliwon juga diyakini sebagai waktu yang membawa banyak keberkahan. Banyak orang Jawa memilih hari ini untuk mengadakan selamatan, wirid, atau sembahyang. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan. Hari ini juga dianggap tepat untuk memulai sesuatu yang baru seperti belajar atau membuka usaha. Kepercayaan ini lahir dari petung Jawa yang memperhitungkan waktu terbaik untuk setiap tindakan.
- Makhluk ghoib berkeliaran, di malam ini oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai waktunya makhluk gaib keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka dipercaya menjadi lebih aktif dan mudah berinteraksi dengan manusia.
- Malam lebaran makhluk gaib, dalam kepercayaan masyakat jawa banyak memilih untuk tinggal di rumah dan tidak melakukan kegiatan besar. Ini dilakukan demi menjaga diri dari gangguan tak kasat mata yang bisa saja muncul tanpa diduga.
- Waktu untuk membersihkan diri, malam satu Suro dikenal sebagai momen untuk membuang sial dan membersihkan diri dari pengaruh buruk. Sejumlah ritual ruwatan dengan tujuan menolak bala dan menghindari malapetaka dengan harapan mendapat keberuntungan dalam hidup.
Pada malam 1 Suro yang bertepatan dengan malam Jumat Kliwon, ada sederet pantangan atau larangan yang sebaiknya tidak dilanggar. Larangan itu Antara lain;
- Tidak Dianjurkan Keluar Rumah karena diyakini malam ini memiliki energi negatif karena waktunya makhluk halus berkeliaran sehingga banyak bahaya bisa datang secara tak terduga.
- Menjaga Ucapan dan Tidak Berkata Kasar. Pada malam satu Suro, orang-orang menjaga lisannya agar tidak mengucapkan kata yang buruk. Mereka yakin bahwa ucapan negatif dapat menjadi kenyataan yang tidak diinginkan. Dalam keyakinan lokal, roh para leluhur turun dan mengawasi manusia pada malam satu Suro. Oleh sebab itu, berbicara dengan penuh kesopanan dan kehati-hatian adalah bentuk penghormatan terhadap kehadiran mereka. Kesucian malam ini dijaga melalui lisan yang bersih dari kemarahan dan keburukan
- Menjaga Suasana Tetap Tenang. Suara keras dan keributan dianggap dapat mengganggu keseimbangan antara dunia nyata dan dunia gaib. Oleh karena itu, masyarakat berusaha menjaga rumah dan lingkungan tetap tenang. Dalam beberapa tradisi, ada yang melakukan tapa bisu sebagai bentuk penghormatan terhadap malam ini. Tapa bisu dilakukan dengan tidak berbicara sama sekali selama beberapa jam bahkan semalaman. Hal ini dipercaya memperkuat hubungan batin dan membuka ruang untuk perenungan.
- Tidak Mengadakan Acara Besar. Waktu ini dianggap bukan momen yang tepat untuk bersuka cita. Bulan Suro lebih dilihat sebagai waktu untuk refleksi dan memohon keselamatan, bukan untuk bersenang-senang.
- Tidak Melakukan Pindahan atau Membangun Rumah. Masyarakat meyakini bahwa kegiatan besar seperti ini bisa mengundang energi negatif. Oleh karena itu, rencana seperti ini lebih baik ditunda hingga bulan Suro selesai. Selain karena alasan spiritual, masyarakat juga percaya bahwa membangun di waktu ini dapat menyebabkan gangguan dari makhluk halus. Kepercayaan ini telah tertanam kuat dalam kebudayaan Jawa. Keselamatan penghuni rumah dianggap lebih penting daripada tergesa-gesa memulai sesuatu.
- Larangan Mencabut Alis. Malam ini dipercaya sebagai saat di mana batas antara dunia manusia dan alam gaib menjadi sangat tipis, sehingga berbagai makhluk halus lebih mudah muncul dan berinteraksi dengan manusia. mencabut alis mata dipercaya bisa mengundang kehadiran makhluk halus bertubuh kecil yang dikenal sebagai tuyul.
itulah sejumlah larangan dan mitos yang hingga sekarang masih dipercayai sebagian masyarakat jawa, sebagai bagian dari warisan budaya luhur nenek moyangnya. berlaku terutama ketika malam 1 Suro dan bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Sejauh mana kebenarannya, Wallahu alam bishawab. (*)

