Hari Pertama Program MBG di Jombang Nasinya basi, Buah busuk dan Susu yang dibagikan sudah kadaluarsa

Foto Petugas kesehatan sedang mengecak makanan bermasalah di salah satu SMPN di Kabupaten Jombang

Jombang – Hari pertama pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jombang penuh masalah dan menuai kekecewaan. Dari masalah nasi goreng basi, Nasi terasa keras tidak matang, Ayam yang berbau busuk, buah jeruk yang busuk, hingga susu yang rasa hambar diduga kadaluarsa.

Contoh pelaksanaan MBG hari pertama di SMPN 1 Jombang, yang dianggap sangat mengecewakan. seorang siswa kelas IX inisial MP menyebut menu MBG pada Senin (1/9) sangat tidak layak dan mengecewakan karena ayamnya masih ada darahnya baunya amis.”saat saya makan, ternyata daging ayamnya kayak masih ada darahnya dan aromanya amis, terus nasinya keras kurang matang”, ujarnya.

Meski menunya mengecewakan, MP mengaku terpaksa tetap mengonsumsi makanan karena lapar. ”Tetap saya makan, karena lapar. “Ya Alhamdulillah perut saya tidak sampai sakit,” jelasnya.

Keluhan serupa disampaikan pelajar putri inisial KN. Siswa kelas IX menyebut lauk ayam kecap yang diterima pada hari pertama pelaksanaan MBG di sekolahnya sudah basi, baunya busuk, sehingga tidak bisa dimakan. ”Ayamnya kemarin berbau busuk, kalau tahunya rasanya hambar. Kalau hari ini tadi enak, ada kayak bakwan, tahu, sayur dan jeruk,” jelasnya.

Kekecewaan juga dirasakan siswa SMPN 2 Jombang. Keluhan muncul terkait nasi goreng basi, buah busuk, dan susu yang diduga kadaluarsa. Baik menu yang disajikan Selasa (2/9) maupun Rabu (3/9) sama-sama mengecewakan.

”saat susunya saya minum terasa hambar, baunya aneh. Saat Dicek kemasannya ada tulisan Masa expired  Mei 2025,” ujar Anisa, salah satu siswa SMPN 2 Jombang.

Selain mengeluhkan kualitas makanan, keterlambatan jam distribusi juga menjadi sorotan. MBG yang dijadwalkan tiba pukul 09.00 WIB, baru datang sekitar pukul 11.45 WIB di SMPN 1 Jombang. ”Karena ini pertama kali, mungkin ada kendala,” ujar Humas SMPN 1 Jombang, Fatkurohaman.

Baca Juga  Polres Jombang berhasil membekuk empat remaja bersenjata Clurit serta membawa ‘bondet’ untuk tawuran

Kepala SMPN 2 Jombang, Etik Nuroidah, mengakui adanya keterlambatan dan kekurangan distribusi. ”Hari pertama lebih dari 100 siswa tidak dapat karena sudah pulang. Hari berikutnya kami koordinasikan agar diganti,” jelasnya.

Etik juga membenarkan adanya keluhan siswa soal kualitas makanan. Ia mengimbau siswa untuk tidak mengonsumsi makanan yang dirasa tidak layak atau bau. ”saya sampaikan Kalau ada keluhan, sampaikan kepada saya atau guru kelas, Akan kami tindak lanjuti,” tegasnya

Foto siswa SMPN 1 Jombang sedang menyantap makanan program MBG hari pertama, kecewa tapi tetap dikonsumsi karena lapar

Temuan nasi basi hingga susu yang diduga kadaluwarsa dalam pelaksanaan program Makan Bergizi (MBG) di Jombang mendapat sorotan tajam dari Anggota DPRD Jombang dari Komisi D. ”Program ini sebenarnya sangat bagus. Namun, kalau masih ada nasi basi, susu diduga kadaluwarsa juga jeruk busuk, jelas ini harus segera dievaluasi,” tegas Wakil Ketua Komisi D DPRD Jombang, Erna Kuswati, Kamis (4/9)

Menurut Erna, kendala teknis memang wajar terjadi pada tahap awal pembagian. Apalagi, satu dapur bisa menyiapkan hingga 3.000 porsi dalam sekali waktu. Namun demikian, hal itu bukan alasan untuk menurunkan kualitas. ”Justru di sinilah pentingnya quality control  Saat memasak, SOP harus benar-benar diterapkan oleh SPPG, sehingga makanan yang sampai ke tangan siswa tetap layak konsumsi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kesalahan seperti adanya menu makanan yang diduga kadaluwarsa semestinya sangat mudah diantisipasi karena bisa dilihat dari bentuk tampilan fisik makanan, bau, dan rasa.

”sumber masalahnya pada pengawasan makanan, bukan masalah teknis produksi. BGN (Badan Gizi Nasional) sebagai penyelenggara harus bertanggung jawab penuh untuk melakukan kontrol di setiap dapur yang telah ditunjuk,” lanjutnya.

Ia meminta agar semua pihak yang terlibat dalam MBG memperketat pengawasan, mulai dari proses pengadaan bahan, penyimpanan, hingga distribusi agar kejadian serupa tidak terulang karena ini menyangkut hak kesehatan warga Negara khususnya anak-anak. (*)